Iran Tak Batasi Pengayaan Uranium Usai Serangan AS

Presiden Iran, Hassan Rouhani, menyatakan tidak akan membatasi pengayaan uranium yang sedang berjalan. Sebab, Iran memilih mundur secara penuh dari perjanjian nuklir 2015 (Joint Comprehensive Plan Of Action) akibat serangan udara Amerika Serikat yang menewaskan salah satu perwira tinggi militernya, Jenderal Qasem Soleimani.


"Tidak ada pembatasan (pengayaan uranium). Kondisi program nuklir saat ini jauh lebih baik daripada saat terikat perjanjian," kata Rouhani dalam pidato di hadapan para petinggi Bank Nasional Iran di Teheran, seperti dikutip dari Associated Press, Jumat (17/1).

Lihat juga: AS Dukung Eropa Desak Iran Patuhi Perjanjian Nuklir

Perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) 2015 yang digagas di era Presiden AS Barack Obama itu menetapkan Iran harus membatasi tingkat pengayaan uranium hingga 3,67 persen, jauh dari keperluan mengembangkan senjata nuklir yaitu 90 persen.


Sebagai timbal balik, negara Barat akan mencabut serangkaian sanksi terhadap Teheran. Selain AS, negara-negara yang menandatangani kesepakatan nuklir JCPOA, yakni Inggris, Prancis, Jerman, China, Rusia, dan Uni Eropa.

Saat ini Iran mengatakan tingkat pengayaan uranium yang mereka lakukan mencapai 4,5 persen. Sebelum kesepakatan itu diteken, mereka sudah memperkaya uranium hingga 20 persen.